Selasa, 26 Februari 2019

Titik-titik Syukur

Kau ingat saat kau ditemani sepi selepas kepergian?
Kau berteman baik dengan sepi

Kau ingat saat kau hancur dilahap kekecewaan?
Kau tahu dimana harus meletak harap

Kau ingat saat kau tersesat dalam keputusasaan?
Kau menemukan jalan kembali pada keyakinan

Kau ingat saat kau dilukai sebegitu hebat?
Kau menemukan obat untuk menyembuhkan mereka yang terluka

Kau ingat saat kau tenggelam dalam tangis yang menyesakkan?
Kau akhirnya dapat menghargai semua senyum

Kau ingat saat semua percaya dipatahkan?
Kau akhirnya tahu siapa yang harus dipercaya

Kau ingat saat sekitar menjatuhkanmu?
Kau tahu bagaimana untuk bangkit

Kau tahu apa yang kau lupakan dari semua yang pernah mencoba menghancurkanmu?
Kau tak pernah benar-benar hancur

Saka

Dosa paling keji adalah berpura-pura baik
Di sekitar kesalahan-kesalahan yang naif

Kita ini apa selain menjadi pengecut untuk mengaku salah?
Mungkin, hidup memang tentang mencari hal-hal yang benar
Bukan terus-terusan merasa benar

Karena, apakah seimbang jika kita lupa untuk mengakui salah?
Sedang, mengakui kesalahan adalah sebaik-baiknya kebenaran

Senin, 25 Februari 2019

Egosentris

“Apakah puisi adalah Penyair itu sendiri?
Atau instrumen-instrumen yang mengelilingi Sang Penyair?
Karena pada bait kesekian.
Diksi-diksi yang berbaris,
kehilangan arah setelah koma yang berkepanjangan.
Mereka baru menyadari,
bahwa dirinya hanyalah potongan tanya utusan Penyair yang Agung.
Yang saling mencari penjelasan, saling mengartikan maknanya sendiri.
Kemudian tetap menjadi tanya, tetap mencari dan menemukan."
Untuk yang ketakutan dan bersembunyi.
Untuk yang dibedakan dan diasingkan.
Tegak dan hiduplah.


~Syahid Muhammad

Titik-titik Syukur

Kau ingat saat kau ditemani sepi selepas kepergian? Kau berteman baik dengan sepi Kau ingat saat kau hancur dilahap kekecewaan? Kau tahu...